Kumpulan Masjid Di Solo Dengan Arsitektur Yang Unik

Masjid Darussalam

Masjid yang secara rutin menjadi lokasi distribusi bubur Samin, khas Banjar, telah berdiri sejak 1960-an.

Disebut Masjid Darussalam yang terletak di Desa Jayengan Kidul, Kabupaten Serengan, Solo, Jawa Tengah, bersamaan dengan kedatangan perantau dari Banjar, Kalimantan Selatan ke Solo.

Kumpulan Masjid Di Solo Dengan Arsitektur Yang Unik

Pendirian Masjid Darussalam tidak terlepas dari peran para perantau dari Banjar. Bahkan budaya lengket Banjar selalu berakar di masjid, termasuk distribusi bubur samin. Jual Kubah Masjid Di Solo

2. Masjid Sholihin

Berlokasi di Jl. Gajahmada No. 97, Punggawan, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Masjid Sholihin dibangun pada tahun 1954.

Masjid ini dibangun dan didedikasikan oleh R. NgtT. Prawirodirdjo ini berisi sebuah prasasti dalam aksara Hanacaraka dan bahasa Jawa, serta prasasti terjemahan bahasa Indonesia, terkait dengan pemujaan masjid.

Uniknya, masjid tua ini secara alami memiliki model konstruksi atap tiga lantai yang tumpang tindih, tentu saja dengan semua filosofinya.

Sejarah Masjid Sholihin

Masjid Sholihin dibangun oleh R. Ngt T. Prawirodirdjo, yang melantik Kliwon pada 16 Jumadilawal Jimmawal 1885 pada hari Kamis atau 21 Januari 1954.

Sebelum pembangunan Masjid Sholihin dilakukan, fondasi masjid, beranda, dan limbah dipasang. Setelah itu, bantuan kaum muslim dan muslim mengalir dalam bentuk pasir, batu kapur, kayu dan lainnya. Sementara itu, orang yang bertanggung jawab atas seluruh proses pembangunan masjid dilakukan oleh R. Ng. Tjondrodiprodjo dan yang melakukannya adalah R. Sutedjo. Pada saat itu, masjid dibangun, yang menjadi presiden Masjid Sholihin, R.H. Muhammad Adnan.

Dilihat dari ukurannya, Masjid Sholihin tidak sebesar atau luas, tetapi memiliki gaya arsitektur yang menawan. Mengadopsi arsitektur bangunan masjid Jawa kuno secara umum, masjid ini memiliki tiga atap tajug-tumpang tindih.

 Atap berbentuk piramida yang menutupi ruangan di masjid ini sebenarnya tidak sering digunakan dalam bangunan yang ditandai oleh seni Islam, seperti yang biasa terjadi di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, seperti Arab Saudi, Turki, Iran, Mesir, Maroko, dan Suriah, dimana kubah adalah pilihan utama untuk menutupi ruang utama bangunan masjid.

Di sinilah letak keunikan Masjid Sholihin, yang pada gilirannya menjadi gaya arsitektur masjid-masjid Jawa pada umumnya.

Masjid Agung Surakarta di pintu kayu, ada ukiran kayu berupa karpet yang mencerminkan kekuatan Tuhan. Masjid ini juga dilengkapi dengan menara yang bisa mencapai 33 meter. Bangunan menara dikatakan terinspirasi oleh masjid di Masjid Haram. Di dalam kompleks Masjid Haram terdapat beberapa bangunan dengan fungsi budaya Jawa-Islam.

Fungsinya, sebagai istana gamelan, ditempatkan dan dimainkan selama Sekatenfeest. Kemudian istal dan garasi kereta untuk raja pada shalat Jumat dan gerebeg.

Selain keunikan bangunan, ada beberapa hal menarik lainnya di sekitar halaman masjid. Di bawah pagan gan di sisi utara dan selatan setelah memasuki pintu masuk utama masjid.

Masjid Agung menempati area seluas 19.180 meter persegi, dipisahkan dari area sekitarnya oleh tembok pagar setinggi 3,25 meter. Masjid Agung Surakarta adalah bangunan tiga lantai dengan atap yang tumpang tindih dan puncak dengan mustaka (mahkota). Gaya arsitektur tradisional Jawa ini terutama untuk bangunan masjid.

Kemudian menara Adzan dengan gaya bangunan yang terinspirasi oleh Qutub Minar di Delhi, India. Ada juga istiwak, gnomon (kolam) yang merupakan bagian dari jam matahari untuk menentukan waktu sholat.

Hampir semua bagian bangunan masjid didominasi oleh kayu jati solid. Terletak di kawasan Keraton Surakarta, menjadikan bangunan masjid ini identik dengan arsitektur keraton. Dilihat dari sejarahnya, Masjid Agung dibangun oleh Pakubwono III pada tahun 1749 dan memainkan peran penting dalam struktur istana dan penyebaran ajaran Islam pada saat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *